Kamis, 28 Mei 2009

Topeng Ireng, Mengenal Dunia Dari Seni Tradisional

Festival tari tradisonal Topeng Ireng memberi ruang bagi anak-anak Kota Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah untuk belajar apresiasi seni dan mengenal tradisi budaya masyarakat.

"Gelaran ini memberikan ruang bagi anak-anak terutama di kota ini untuk mengenal dan berapresiasi tentang tradisi budaya, terutama seni tari Topeng Ireng," kata pengajar Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta, Wenti Nuryani, di Magelang, Sabtu.

Festival Topeng Ireng yang diikuti puluhan grup kesenian rakyat itu berasal dari Muntilan, Borobudur, Mungkid, Dukun, dan Salaman. Festival ini akan berlangsung hingga Kamis (23/8).

Gelaran itu swadaya masyarakat Dusun Tambakan, Desa Sedayu, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang sekaligus memeriahkan HUT ke-62 RI di kawasan tersebut.

Ia mengemukakan, akhir-akhir ini tarian Topeng Ireng berkembang di beberapa tempat di Kabupaten Magelang.

Mengenai asal-usul tarian itu, ia mengatakan, hingga saat ini belum diketahui tetapi para penarinya mengenakan pakaian mirip orang Indian di Amerika dengan kedua kaki dipasangi puluhan "kelinthing", sedangkan tarian diiringi tabuhan gamelan.

"Tarian ini sedang mendapat tempat di hati masyarakat dan akhir-akhir ini perkembangannya di Magelang luar biasa. Kostumnya yang ala Indian mungkin menjadi daya tarik tersendiri," kata Wenti yang juga seniman Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, lereng Gunung Merapi, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu.

Ia menjelaskan, tarian itu sejenis Kubro Siswo dan Badui, tarian tradisional yang berkembang terutama di kawasan gunung-gunung di Magelang.

Gerakan tari Topeng Ireng, katanya, menggambarkan masyarakat desa dan gunung-gunung di Kabupaten Magelang melakukan olah fisik setiap hari."Belum diketahui sejarahnya tetapi gerakan tariannya menggambarkan olah fisik orang-orang desa dan gunung-gunung, dengan iringan gamelan rampak," katanya.

Ketua Panitia Festival Topeng Ireng, Sarjono, mengatakan, setiap hari dua grup mementaskan tarian itu di panggung terbuka di halaman rumah warga Muntilan, Bintarto. Sejumlah grup tari Topeng Ireng yang mengikuti festival tersebut adalah "Sinar Mudo" (Wonoboyo, Muntilan), "Putra Rimba" (Ngadiwinatan, Borobudur), "Caping Ireng" (Pabelan II, Mungkid), "Santri Mudo" (Pasar Soko Talun, Dukun).

Selain itu, katanya, grup "Lowo Ireng" (Sidomulyo, Salaman), "Seto Aji Kumitir" (Kepil, Dukun), "Satrio Mudo" (Gupit, Borobudur), "Gagak Ngampar" (Bandung Paten, Dukun), "Topeng Krido" (Pabelan IV, Mungkid), "Topeng Seto" (Cakran, Borobudur), "Anak Rimba" (Srigetan, Borobudur), dan "Topeng Purba" (Kurahan, Borobudur).

Suasana di kampung tempat festival tersebut terlihat semarak antara lain ditandai seni instalasi penjor dan gapura dari bahan anyaman jerami, serta pemasangan sejumlah patung Topeng Ireng di beberapa tempat.

Pengikut